"Ngontrak itu buang-buang uang" — kalimat ini sering diucapkan tanpa hitungan. Faktanya, membeli rumah lewat KPR berarti membayar bunga bank yang besar di tahun-tahun awal, plus biaya notaris, pajak, dan perawatan. Mari berhitung jujur sebelum memutuskan.

Hitung biaya total, bukan cicilan saja

Bandingkan sewa tahunan dengan total biaya memiliki: cicilan KPR + bunga + PBB + asuransi + biaya perawatan (alokasikan 1% nilai rumah per tahun) + biaya transaksi awal. Di banyak kota besar, total biaya memiliki di 5 tahun pertama jauh lebih mahal daripada menyewa. Yang dibandingkan adalah total biaya 5–10 tahun, bukan cicilan bulanan versus sewa bulanan.

Pertimbangkan berapa lama Anda tinggal

Biaya transaksi beli rumah (notaris, AJB, BPHTB, provisi bank) bisa mencapai 8–12% dari harga — biaya ini hanya "balik modal" jika Anda tinggal cukup lama, umumnya 5–7 tahun. Jika karier menuntut pindah kota dalam 2–3 tahun, menyewa hampir selalu menang. Beli rumah adalah komitmen jangka panjang; sewa adalah fleksibilitas yang punya harga.

Jangan abaikan opportunity cost DP

Uang muka 20–30% untuk rumah Rp800 juta berarti Rp160–240 juta terkunci. Jika uang itu diinvestasikan dengan return moderat, nilainya tumbuh signifikan dalam 10 tahun. Hitung juga selisih antara cicilan dan sewa yang bisa ditabung jika Anda menyewa. DP yang "tidur" di rumah adalah biaya yang jarang dihitung orang.

Kapan membeli jelas menang?

Membeli unggul jika: Anda akan tinggal 7+ tahun, cicilan KPR tidak lebih dari 30% penghasilan, dana darurat tetap aman setelah DP, dan harga sewa di area itu naik cepat. KPR juga memaksa disiplin menabung lewat ekuitas. Beli saat finansial siap dan rencana tinggal jelas — bukan karena tekanan sosial.

Tidak ada jawaban universal — hanya ada jawaban yang tepat untuk situasi Anda. Buat spreadsheet sederhana dengan angka nyata Anda, hitung 10 tahun ke depan, dan biarkan matematika — bukan gengsi — yang memutuskan di 2026.